BLOGGER TEMPLATES AND TWITTER BACKGROUNDS

Selasa, 22 Maret 2011

kesehatan lingkungan

Pengendalian Terpadu Nyamuk Demam Berdarah
Email: arda.dinata@gmail.com

MEMASUKI musim hujan, demam berdarah dengue (DBD) kembali menjadi momok menakutkan bagi masyarakat. Lebih-lebih bila kondisi cuaca yang berubah-ubah, sehari hujan, besoknya panas menyengat, dan kemudian hari berikutnya hujan lagi. Kondisi tersebut sangat potensial untuk berkembangnya nyamuk Aedes aegypti, sang vektor penyebar DBD.

Sedikitnya 197 warga Jawa Barat meninggal dunia akibat DBD selama Januari-Oktober 2005 atau hampir 20 orang meninggal setiap bulannya (Pikiran Rakyat, 19/10),. Berdasarkan data di Dinas Kesehatan Jabar, warga terbanyak yang meninggal akibat DBD adalah warga Kota Bandung sebanyak 25 orang (data Dinkes Kota Bandung, malahan menyebutkan 27 orang). Sementara warga Kab. Cirebon sebanyak 21 orang dan Kota Bekasi, Kota Depok, dan Kab. Bogor masing-masing 20 orang.


Mematikan


Demam berdarah termasuk penyakit yang sudah sohor karena terjadi hampir tiap tahun dan memakan korban. Perlu diingat, penyakit ini tak kurang mematikan bila dibanding SARS atau malaria. Demam berdarah terjadi setiap tahun pascamusim hujan dan terjadi di daerah perkotaan (baca: dominannya). Penyebabnya, tak lain virus yang menulari manusia melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti. Nyamuk pengelana di siang hari dan istirahat di malam hari ini memiliki bentuk tubuh kecil dan bercak-bercak hitam putih.


Nyamuk Aedes aegypti bersifat anthropophilic, walaupun mungkin akan mengisap darah hewan berdarah panas lain yang ada. Sebagai spesies yang aktif di siang hari, nyamuk betina mempunyai dua waktu aktivitas menggigit, yaitu beberapa jam di pagi hari dan beberapa jam sebelum gelap. Puncak aktivitas menggigit bergantung pada lokasi dan musim. Apabila pada waktu mengisap darah terganggu, Aedes aegypti dapat mengisap darah lebih dari satu orang. Jadi, wajar saja apabila beberapa anggota dari satu keluarga yang sama terjangkit penyakit dalam waktu 24 jam, mereka dapat terinfeksi oleh nyamuk yang sama. Pada umumnya Aedes aegypti tidak menggigit di malam hari, namun mungkin menggigit dalam ruangan yang terang di malam hari.


Sebanyak 100 ekor telur yang dihasilkannya, akan menjadi pasukan baru yang siap menyebarkan wabah demam berdarah. Nyamuk Aedes aegypti betina biasanya terinfeksi virus dengue pada saat dia mengisap darah dari seseorang yang sedang dalam fase demam akut (viraemia). Virus dari pengidap demam berdarah akan berkembang di tubuh nyamuk selama 8 – 10 hari (inkubasi ekstrinsik). Virus berkembang menjadi banyak dan masuk kelenjar nyamuk. Kelak ludah yang mengandung virus akan menulari manusia lain. Setelah masa inkubasi di tubuh manusia selama 3 – 14 hari (rata-rata selama 4 – 6 hari), timbul gejala awal penyakit secara mendadak.


Viraemia biasanya muncul pada saat atau persis sebelum gejala awal penyakit tampak dan berlangsung selama kurang lebih 5 hari setelah dimulainya penyakit. Saat-saat tersebut merupakan masa kritis di mana penderita dalam masa infektif untuk vektor nyamuk yang berperan dalam siklus penularan. Penderita tidak terlindung terhadap kemungkinan digigit nyamuk.


Virus hanya dapat hidup pada sel yang hidup sehingga ketika virus masuk ke dalam tubuh manusia, ia akan bersaing dengan sel manusia terutama untuk keperluan protein. Persaingan ini sangat bergantung pada daya tahan tubuh manusia. Gejala inilah yang menyebabkan terjadinya demam tinggi.


Demam tiba-tiba


Demam berdarah atau dengue fever akibat dari virus dengue yang memiliki empat jenis virus yaitu serotipe 1, 2, 3, dan 4. Nama lain dari penyakit demam berdarah adalah demam nyeri tulang, Dengue Hemorrhagic Fever (DHF) atau Dengue Shock Syndrome (DSS). Bentuk virusnya bulat berdiameter 40 – 50 nm dikelilingi duri. Pembawa virus bisa di tubuh manusia, primata, mamalia lain, dan burung.


Pengidap demam berdarah dapat diketahui dari panas yang tiba-tiba meninggi selama 2 – 7 hari, suhu tubuh mencapai 38 derajat C, nyeri ulu hati karena terjadinya pembengkakan atau hepatomegali (pada perut kanan atas), pendarahan spontan bisa berupa bintik-bintik merah di kulit (petekie), mimisan, gusi berdarah, dan yang lebih parah lagi dapat disertai muntah darah, melena. Pada keadaan yang berat, dapat terjadi syok yang ditandai dengan nadi yang lemah dan cepat, serta turunnya tekanan darah, kulit dapat teraba dingin dan lembab, terutama pada ujung hidung, jari tangan dan kaki, penderita tampak gelisah dan mulut kelihatan kebiruan.


Tahap kritis penyakit adalah ketika masa penurunan suhu (defervescence). Munculnya trombositopenia dengan disertai hemokosentrasi terjadi sebelum suhu tubuh turun dan atau mulainya masa syok.


Lantas, uji serologis di laboratorium berupa kadar trombosit yang menurun di bawah angka normal 150.000 – 450.000 dan kenaikan kekentalan darah. Kurangnya trombosit yang berfungsi mempercepat pembekuan darah inilah yang menyebabkan terjadinya pendarahan di mana-mana.


Selain pemeriksaan kadar hematokrit dan trombosit berkala, ada serangkaian pemeriksaan yang harus pula dilakukan untuk mengevaluasi keadaan pasien. Pemeriksaan meliputi serum elektrolit dan gas darah, jumlah trombosit, waktu protombin, waktu tromboplastin parsial dan waktu trombin, serta uji fungsi hati yaitu serum aspartat aminotransferase (sebelumnya dikenal sebagai serum glutamic oxaloacetic transaminase = SGOT), serum alanine aminotransferase (sebelumnya dikenal sebagai serum glutamic pyruvic transaminase = SGPT) dan serum protein.


Banyak minum


Pada penderita demam berdarah dapat dilakukan pertolongan pertama yaitu dengan cara minum sebanyak-banyaknya. Hal itu sangat membantu mengatasi rembesan cairan darah yang menyebabkan kekentalan darah di dalam pembuluh nadi meningkat. Air minum dapat berupa air bening, teh, susu, atau oralit. Bahkan jus buah-buahan cukup membantu penggantian cairan tubuh. Dan keuntungan lain adalah kandungan vitamin untuk turut menjaga kebutuhan gizi pasien. Dalam beberapa hari saja, keadaan penderita penyakit ini dapat menjadi parah dan menyebabkan kematian. Sungguh mengerikan memang, hanya karena seekor nyamuk yang menjadi “vampire mini” bisa mematikan manusia.


Oleh sebab itu, upaya pencegahan wabah DBD harus terus dilakukan secara berkesinambungan, baik dari masyarakat sendiri maupun pemerintah. Masa-masa rawan yaitu pascamusim hujan perlu diwaspadai dengan meningkatkan kebersihan lingkungan. Genangan air yang menjadi habitat pembiakan nyamuk sedapat mungkin dimusnahkan. Sedangkan tempat-tempat air ditutup rapat-rapat. Upaya lain menggunakan kelambu saat tidur, obat oles untuk mengusir serangan nyamuk. Ingat, 3 M ( membersihkan, menutup, mengubur).


Pengendalian nyamuk


Pengendalian adalah suatu usaha untuk mengekang suatu hal dengan pengaturan sumber daya, agar tujuan yang telah ditetapkan dapat dicapai dengan cara membandingkan antara usaha dengan suatu standar tertentu yang telah ditetapkan. Tujuan pengendalian vektor adalah menurunkan kepadatan vektor pada tingkat yang tidak membahayakan kesehatan. Cara pengendalian DBD yang dapat dilakukan saat ini adalah dengan memberantas nyamuk penularnya, karena vaksin untuk mencegah dan obat untuk membasmi belum ada. Pada dasarnya pengendalian vektor DBD dapat dilakukan dengan 4 cara.


Pertama, pengendalian lingkungan. Langkahnya terdiri dari pengendalian terhadap nyamuk dewasa dan pradewasa. Pada prinsipnya pengelolaan lingkungan ini adalah mengusahakan agar kondisi lingkungan tidak/kurang disenangi oleh nyamuk sehingga umur nyamuk berkurang dan tidak mempunyai kesempatan untuk menularkan penyakit atau mengusahakan agar untuk nyamuk dan manusia berkurang. Usaha ini dapat dilakukan dengan cara menambah pencahayaan ruangan dalam rumah, lubang ventilasi, mengurangi tanaman perdu, tidak membiasakan menggantungkan pakaian di kamar serta memasang kawat kasa.


Pengendalian terhadap nyamuk pradewasa. Pengelolaan lingkungan tempat perindukan ini adalah usaha untuk menghalangi nyamuk meletakkan telurnya atau menghalangi proses perkembangbiakan nyamuk.


Kedua, pengendalian secara biologis. Yakni berupa intervensi yang dilakukan dengan memanfaatkan musuh-musuh (predator) nyamuk yang ada di alam seperti ikan kepala timah dan goppy.


Ketiga, pengendalian secara kimia. Yakni berupa pengendalian vektor dengan bahan kimia, baik bahan kimia sebagai racun, sebagai bahan penghambat pertumbuhan ataupun sebagai hormon. Penggunaan bahan kimia untuk pengendalian vektor harus mempertimbangkan kerentanan terhadap pestisida yang digunakan, bisa diterima masyarakat, aman terhadap manusia dan organisme lainnya, stabilitas dan aktivitas pestisida, dan keahlian petugas dalam penggunaan pestisida.


Keempat, pengendalian terpadu. Langkah ini tidak lain merupakan aplikasi dari ketiga cara yang dilakukan secara tepat/terpadu dan kerja sama lintas program maupun lintas sektoral dan peran serta masyarakat.***


Arda Dinata, AMKL.Staf Loka Litbang Pemberantasan Penyakit Bersumber Binatang (P2B2) Ciamis, Balitbang Kesehatan Depkes.


Rabu, 09 Maret 2011

SHINee(샤이니)_Hello_뮤직비디오(MusicVideo)

charice ft iyaz - pyrammid


shawty's love is like a pyramid
we stand together till the very end
there'll never be another love for sure
iyaz and charice here we go

stones heavy like the love you've shown
solid as the ground we've known
and i just wanna carry on
we took it from the bottom up
and even in a desert storm
sturdy as a rock we hold
wishing every moment froze
now i just wanna let you know


earthquakes can't shake us
cyclones can't break us
hurricanes can't take away our love

pyramid, we've built this on a solid rock
it feels just like it's heaven's touch
together at the top (at the top baby) like a pyramid
and even when the wind is blowin
we'll never fall just keep on goin
forever we will stay like a pyramid

like a pyramid, like a pyramid hey
like a pyramid, like a pyramid hey
like a pyramid, like a pyramid hey

cold never ever when you're close
we will never let it fall
a story that was never told
something like a mystery
and every step we've took we grown
look how fast the time has flown
a journey to the place unknown
we're going down in history


earthquakes can't shake us
cyclones can't break us
hurricanes can't take away our love

pyramid, we've built this on a solid rock
it feels just like it's heaven's touch
together at the top (at the top baby) like a pyramid
and even when the wind is blowin
we'll never fall just keep it goin
forever we will stay like a pyramid


like a pyramid girl i'ma show you
that i love you so much that we're gonna get through
even when it storms i will never go
i'ma be the one to keep you safe
before was a love i care more than enough
holding on to one another be the cover when it's rough
mother nature, or disaster won't stop our happy ever after

pyramid... keep it going...
like a pyramid, like a pyramid hey


pyramid, we've built this on a solid rock
it feels just like it's heaven's touch
together at the top (at the top baby) like a pyramid
and even when the wind is blowin
we'll never fall just keep on goin
forever we will stay like a pyramid

pyramid..
pyramid, we've built this on a solid rock
it feels just like it's heaven's touch
together at the top (at the top baby) like a pyramid
and even when the wind is blowin
we'll never fall just keep it goin
forever we will stay like a pyramid
like a pyramid, like a pyramid hey
like a pyramid, like a pyramid hey
like a pyramid, like a pyramid hey

Tujuan Tahun Sanitasi Internasional 2008


1. Sasaran Tahun Sanitasi Internasional 2008. Meningkatkan kepedulian dan komitmen
dari beragam pelaku pada semua tingkatan terhadap pentingnya pencapaian target
sanitasi MDG, termasuk kesehatan, kesetaraan gender, masalah ekonomi, dan
lingkungan melalui kegiatan komunikasi, pemantauan data dan bukti nyata.
2. Memobilisasi Pemerintah (dari level Pusat hingga tingkat daerah), lembaga keuangan,
sector swasta dan lembaga-lembaga PBB melalui kesepakatan bersama mengenai
bagaimana dan siapa yang akan melakukan langkah yang diperlukan.
3. Menjamin komitment nyata untuk meninjau, membangun dan melaksanakan rencana
untuk mencontoh program sanitasi dan memperkuat kebijakan di bidang sanitasi melalui
pembagian tanggung jawab yang jelas agar rencana tersebut dapat terlaksana dengan
baik di tingkat nasional maupun internasional.
4. Mondorong peningkatan peningkatan, keberlanjutan dan solusi tradisional, dan pilihan
yang diinformasikan dengan mengenali pentingnya bekerja dari bawah dengan praktisi
dan komunitas
5. Menjamin peningkatan alokasi dana untuk memulai dan mempertahankan kemajuan
pembangunan di bidang sanitasi melalui komitment anggaran nasional dan
pengembangan kemitraan bersama.
6. Mengembangkan dan memperkuat institusi dan kapasitas manusia melalui pemahaman
pada semua tingkatan bahwa kemajuan pencapaian target sanitasi MDGs melibatkan
beragam program baik higenitas, fasilitas di tingkat rumah tangga dan pengolahan
limbah. Memobilisasi komunitas pengakuan peran wanita, bersama dengan pemaduan
intervensi pembangunan “perangkat keras” dan “perangkat lunak” merupakan hal
mendasar
7. Memperkuat keberlanjutan dan keefektifan solusi sanitasi yang tersedia, untuk
memperkuat dampak kesehatan, penerimaan secara budaya dan sosial, teknologi tepat
guna dan institusi, dan perlindungan terhadap lingkungan dan sumber daya alam.
8. Mempromosikan dan mendokumentasikan hasil pembelajaran untuk memperdalam
pengetahuan dan contoh sukses sanitasi yang berkonstribusi besar pada advokasi
dan meningkatkan investasi di sektor sanitasi.

metode pengolahan sampah organik

Pengomposan Individual
Kebun Karinda menyarankan pengomposan dengan metode Takakura. Jika dilakukan dengan benar dalam proses tidak ada bau busuk dan higienis. Tidak memerlukan tempat luas, tetapi tidak boleh kena hujan atau sinar matahari langsung.
Sampah organik dipisahkan dari sampah anorganik (kegiatan ini disebut “memilah sampah”) kemudian dicacah menjadi berukuran 2 cm x 2 cm agar mudah dicerna mikroba kompos. Wadahnya boleh keranjang cucian isi 40 L atau lebih dikenal dengan Keranjang Takakura, ember bekas cat atau kaporit (isi 25 L), drum bekas yang dipotong menjadi 2 bagian (isi 100 L), keranjang rotan atau bambu yang isinya lebih dari 25 L untuk mempertahankan suhu kompos. Pemilihan wadah tergantung bahan yang tersedia, selera dan banyaknya sampah setiap hari.
Sampah harus dimasukkan wadah kompos setiap hari (sebelum menjadi busuk) dan diaduk sampai ke dasar wadah supaya tidak becek di bagian bawah. Pengadukan juga dimaksud untuk memasukkan oksigen yang diperlukan untuk pernapasan mikroba kompos. Jika wadah sudah penuh, kompos baru bisa dipanen jika sudah matang.
Pengomposan dimulai lagi dengan wadah lain, dengan aktivator sebagian kompos yang masih panas dari wadah pertama. Kompos setengah jadi ini bisa juga dikirim ke pengomposan komunal untuk diproses bersama-sama. Sebagian ditinggal dalam wadah untuk dijadikan aktivator. Warga akan mendapat hasil panen kompos, atau membelinya dengan harga khusus.
Pengomposan Komunal
Memerlukan bangunan tanpa dinding, atapnya bisa dari plastik terpal, daun kirai, plastik gelombang, genteng dan sebagainya tergantung dana yang tersedia. Lantainya bisa tanah, semen atau paving blok. Kita bisa menyebutnya sebagai “Rumah Kompos”.
Untuk wadah pengomposan sampah organik rumah tangga dapat dibuat bak atau kotak dari bambu, kayu, paving blok, bata dan sebagainya. Agar dapat menyimpan panas, kotak harus memiliki volume paling sedikit 500 L atau memiliki panjang 75 cm, lebar 75 cm dan tinggi 1 m. Salah satu sisinya harus bisa dibuka, untuk mengeluarkan adonan kompos jika seminggu sekali dibalik. Banyaknya kotak tergantung jumlah sampah yang akan dikelola.
Hal penting agar tempat pengomposan bersih dan tidak berbau busuk, sampah yang masuk hanya sampah orgaik saja. Warga harus memilah sampahnya di rumah masing-masing (mengikuti RUU Persampahan). Di depan rumah tidak perlu ada bak sampah, tetapi disediakan dua wadah sampah untuk sampah organik dan anorganik. Petugas pengangkut sampah mengambilnya dengan gerobak sampah yang diberi sekat. Sampah organiknya diturunkan di Rumah Kompos.
Selanjutnya oleh petugas dicacah (manual atau dengan mesin pencacah). Jika menggunakan mesin pencacah, agar sampah tidak mengeluarkan air dan untuk menambahkan unsur Karbon, dicampurkan terlebih dahulu serbuk gergaji. Jika pencacahan secara manual, serbuk gergaji dicampurkan sebelum masuk wadah kompos. Aktivator yang digunakan adalah adonan kompos yang masih aktif atau belum selesai berproses. Jika menggunakan mesin pencacah, aktivator ditambahkan sebelum masuk mesin.
Adonan kompos dari sampah organik rumah tangga jika diaduk setiap hari, akan matang dalam waktu kurang lebih 10-14 hari, namun harus distabilkan dahulu sampai suhu menjadi seperti suhu tanah, kira-kira makan waktu 2 minggu baru bisa dipanen. Jika akan dikemas diayak terlebih dahulu untuk memisahkan bagian yang kasar atau belum menjadi kompos.
Jika tanah yang tersedia cukup luas dan sampahnya cukup banyak, pengomposan dapat dilakukan dengan sistem open windrow yaitu dengan timbunan-timbunan yang memerlukan pembalikan. Kompos setengah jadi yang dikirim oleh warga dicampurkan ke adonan kompos yang sudah berusia kurang lebih 1 minggu, dan akan matang bersama-sama.

shinee - amigo

[Minho]Cold heart, baby!
Cold eyes, baby!
Let's go!

[Jonghyun]Mannatda banhaetda
Keunyeo-ege banhaetda
Cheoeum boneun sexy
(Keunyeodo nareul bwa)
[Key]Wa, chagapda, chagapda
Eoreumdongju osyeotda
Hajiman sexy
(Jamgganman gidaryeo girl)
[Taemin]Naega ga dalryeoga dojeoneun neul jeulgeopda
Hajiman sesangeun manmanhaji anhatda

[All]*A.mi.go!
Keunyeol boda naega michyeo
A.mi.go!
Iri sone an jabhyeo
A.mi.go!
Yonggi nae naneun pitch up!
Eoddeokhae eoddeokhae
A.mi.go!
Naneun jajonshimeul deonjyeo
A.mi.go!
Dugeundugeun gaseum teojyeo
A.mi.go!
Keunyeol gajin gibun chwigo
Jukgetda jukgesseo

[Onew]Wasseulkka bwasseulkka
Eojjeoda keunyeol hanbeon
Keureon jeok eopseo
Keuraetdamyeon imi nan slave
[Jonghyun]Neon wanbyeokhae wanbyeokhae
Nae insaengeui ggokjijeom
Nan neoreul weonhae
I'm ready~ forever!
[Onew]Dorabwa meomchweobwa
[Key]Naege gihwil jweoya dwae
[Jonghyun]Sokbin nam, heose nam
Bigyo mara, naneun wanso nam

[All]*A.mi.go!
Keunyeol boda naega michyeo
A.mi.go!
Iri sone an jabhyeo
A.mi.go!
Yonggi nae naneun pitch up!
Eoddeokhae eoddeokhae
A.mi.go!
Naneun jajonshimeul deonjyeo
A.mi.go!
Dugeundugeun gaseum teojyeo
A.mi.go!
Keunyeol gajin gibun chwigo
Jukgetda jukgesseo
[ Lyrics from: http://www.lyricsmode.com/lyrics/s/shinee/amigo.html ]
[Key]Hey, I don't know you
Keunyeol moreujiman keunyeoreul weonhae
Nareul bburichyeodo keudael jinjjaro weonhae
Namjadeureun modu jimseung neukdae gatdago
Eommadeureui gyeongheomdameun midji mallago
[Minho]Michin mimogajin neoneun sungbae bada maddang!
Yeongweonhi nae gyeoteseo sarangbada maddang!
Eoreumbari seorin nune himeul pureojweo
Ijen nal jikyeobwa matgyeobwa
Turn it up, girl~

[Taemin]Jikyeobwa, matgyeobwa sesang eopseodo nan jeoldae
Nae yeoja hanan ggeutggaji
[Jonghyun]Saranghaejul meotjin nam~

[All]*A.mi.go!
Keunyeol boda naega michyeo
A.mi.go!
Iri sone an jabhyeo
A.mi.go!
Yonggi nae naneun pitch up!
Eoddeokhae eoddeokhae
A.mi.go!
Naneun jajonshimeul deonjyeo
A.mi.go!
Dugeundugeun gaseum teojyeo
A.mi.go!
Keunyeol gajin gibun chwigo
Jukgetda jukgesseo

[All]*a.mi.go!
Keunyeol boda naega michyeo
A.mi.go!
Iri sone an jabhyeo
A.mi.go!
Yonggi nae naneun pitch up!
Eoddeokhae eoddeokhae
A.mi.go!
Naneun jajonshimeul deonjyeo
A.mi.go!
Dugeundugeun gaseum teojyeo
A.mi.go!
Keunyeol gajin gibun chwigo
Jukgetda jukgesseo

Cold heart, baby!
Eoreumdongju gateun nunbicheun malgo
Hanbeonjjeumeun useodo bwayo
Ogeum jeorigo eoreobuteo!
Cold eyes, baby!
Miso hanbeonjjeumman naege jweo bwayo
Keunal baro geum noyemodeu
Ogeum jeorigo eoreobuteo!
Cold heart, baby!
Yeah! alright
Cold eyes, baby!
I like that girl
Cold eyes, baby!

More lyrics: http://www.lyricsmode.com/lyrics/s/shinee/#share

Hazard Analysis Critical Control Point

HACCP adalah suatu alat (tools) yang digunakan untuk
menilai tingkat bahaya, menduga perkiraan risiko dan menetapkan
ukuran yang tepat dalam pengawasan, dengan menitikberatkan pada
pencegahan dan pengendalian proses dari pada pengujian produk
akhir yang biasanya dilakukan dalam cara pengawasan tradisional
(Suklan, 1998).
Hazard Analysis, adalah analisis bahaya atau kemungkinan
adanya risiko bahaya yang tidak dapat diterima. Bahaya disini adalah
segala macam aspek mata rantai produksi pangan yang tidak dapat
diterima karena merupakan penyebab masalah keamanan pangan.
Bahaya tersebut meliputi :
- keberadaan yang tidak dikehendaki dari pencemar biologis,
kimiawi, atau fisik pada bahan mentah.
- Pertumbuhan atau kelangsungan hidup mikroorganisme dan hasil
perubahan kimiawi yang tidak dikehendaki (misalnya nitrosamin)
pada produk antara atau jadi, atau pada lingkungan produksi.
- Kontaminasi atau kontaminasi ulang ( cross contamination) pada
produk antara atau jadi, atau pada lingkungan produksi.
Critical Control Point (CCP atau titik pengendalian kritis),
adalah langkah dimana pengendalian dapat diterapkan dan
diperlukan untuk mencegah atau menghilangkan bahaya atau
menguranginya sampai titik aman (Bryan, 1995). Titik pe ngendalian
kritis (CCP) dapat berupa bahan mentah, lokasi, praktek, prosedur
atau pengolahan dimana pengendalian dapat diterapkan untuk
mencegah atau mengurangi bahaya. Ada dua titik pengendalian kritis:
- Titik Pengendalian Kritis 1 (CCP-1), adalah sebagai titik dimana
bahaya dapat dihilangkan
- Titik Pengendalian Kritis 2 (CCP-2), adalah sebagai titik dimana
bahaya dikurangi.
Meskipun aplikasi HACCP pada umumnya dilakukan di dalam
industri pengolahan pangan, tetapi pada prinsipnya dapat dilakukan
mulai dari produksi bahan baku sampai pemasaran dan distribusi. Hal
ini disebabkan beberapa kontaminasi, misalnya logam berat,
pestisida, dan mikotoksin yang mungkin mencemari bahan baku pada
Sudarmaji, Analisis Bahaya dan Pengendalian Titik Kritis 185
waktu produksi, sangat sulit dihilangkan dengan proses pengolahan.
Oleh karena itu pengawasan terhadap bahan -bahan berbahaya
tersebut harus dimulai dari saat produksi bahan baku. HACCP tidak
hanya diterapkan dalam industri pangan modern, tetapi juga
diterapkan dalam produksi makanan katering/jasa boga, makanan
untuk hotel dan restoran, bahkan dalam pembuatan makanan jajanan.Manfaat HACCP
Terdapat beberapa keuntungan pokok yang diperoleh
pemerintah dan instansi kesehatan serta konsumen dari penerapan
HACCP sebagai alat pengatur keamanan makanan:
1. HACCP adalah suatu pendekatan yang sistematis yang dapat
diterapkan pada semua aspek dari pengamanan makanan,
termasuk bahaya secara biologi, kimia, dan fisik pada setiap
tahapan dari rantai makanan mulai dari bahan baku sampai
penggunaan produk akhir.
2. HACCP dapat memberikan dasar nuansa statistik untuk
mendemonstrasikan kegiatan yang dapat atau mungkin
dilakukan untuk mencegah terjadi bahaya sebelum mencapai
konsumen.
3. Sistem HACCP memfokuskan kepada upaya timbulnya bahaya
dalam proses pengolahan makanan.
4. Penerapan HACCP melengkapi sistem pemeriksaan oleh
pemerintah sehingga pengawasan menjadi optimal.
5. Pendekatan HACCP memfokuskan pemeriksaan kepada tahap
kegiatan yang kritis dari proses produksi y ang langsung
berkaitan dengan konsumsi makanan.
6. Sistem HACCP meminimalkan risiko kesehatan yang berkaitan
dengan konsumsi makanan.
7. Dapat meningkatkan kepercayaan akan keamanan makanan
olahan dan karena itu mempromosikan perdagangan dan
stabilitas usaha makanan (Suklan, 1998).
KESIMPULAN DAN SARAN
HACCP adalah suatu pendekatan sistem dalam pengamanan
makanan. Dengan pendekatan HACCP ini, maka pengawasan
keamanan makanan baik yang dikelola oleh perusahaan makanan,
jasa boga, rumah makan, restoran, maupun yang dikelola sebagai
makanan jajanan dan makanan rumah tangga, dapat lebih terjaminmutunya, karena setiap tahapan proses pengolahan dikendalikan
risikonya dan bahaya yang mungkin timbul. Untuk menerapkan
HACCP diperlukan peningkatan mutu sumber daya manu sia sehingga
pendekatan sistem ini dapat mencapai sasaran.
DAFTAR PUSTAKA
Bryan, Frank L. (1995). Analisis Bahaya dan Pengendalian itik Kritis .
(Diterjemahkan oleh Ditjen PPM dan PLP). Jakarta: Depkes
RI
ILSI-Eropa. (1996). Petunjuk Ringkas untuk Memah ami dan
Menerapkan Konsep Analisis Bahaya pada Titik Pengendalian
Kritis. Jakarta
Suklan, H. (1998). Pedoman Pelatihan System Hazard Analysis
Critical Control Point (HACCP) untuk Pengolahan Makanan.
Jakarta: Depkes RI
USDA. (1993). HACCP Principles for Food Production. USDA.

Teknik Sterilisasi Peralatan Kesehatan


Sterilisasi atau suci hama yaitu suatu proses membunuh segala bentuk kehidupan mikro organisme yang ada dalam sample/contoh, alat-alat atau lingkungan tertentu. Dalam bidang bakteriologi, kata sterilisasi sering dipakai untuk menggambarkan langkah yang diambil agar mencapai tujuan meniadakan atau membunuh semua bentuk kehidupan mikroorganisme.
Tehnik sterilisasi pada dasarnya dapat ditempuh melalui dua cara :
1. Secara Fisis
2. Secara kimia/chemical.
Kali ini kita membicarakan sterilisasi secara fisis.
STERILISASI SECARA FISIS
a. Metode Radiasi
Dalam mikro biologi radiasi gelombang elektromagnetik yang banyak digunakan adalah radiasi sinar ultraviolet, radiasi sinar gamma atau sinar X dan sinar matahari. Sinar matahari banyak mengandung sinar ultraviolet, sehingga secara langsung dapat dipakai untuk proses sterilisasi; hal ini telah lama diketahui orang. Sinar ultraviolet bisa diperoleh dengan menggunakan katoda panas (emisi termis) yaitu ke dalam tabung katoda bertekanan rendah diisi dengan uap air raksa; panjang gelombang yang dihasilkan dalam proses ini biasanya dalam orde 2.500 s/d 2.600 Angstrom. Lampu merkuri yang banyak terpasang di jalan-jalan sesungguhnya banyak mengandung sinar ultraviolet. Namun sinar ultraviolet yang dihasilkan itu banyak diserap oleh tabung gelas yang dilaluinya, sehingga dalam proses sterilisasi hendaknya memperhatikan dosis ultraviolet. ultraviolet.
Sinar ultraviolet yang diserap oleh sel organisme yang hidup, khususnya oleh nukleotida maka elektron-elektron dan molekul sel hidup akan mendapat tambahan energi. Tambahan energi ini kadang-kadang cukup kuat untuk mengganggu bahkan merusak ikatan intramolekuler, misalnya ikatan atom hidrogen dalam DNA. Perubahan intramolekuler ini menyebabkan kematian pada sel-sel tersebut. Beberapa plasma sangat peka terhadap sinar ultraviolet sehingga mudah menjadi rusak.
Sinar gamma mempunyai tenaga yang lebih besar dan pada sinar ultraviolet dan merupakan radiasi pengion. Interaksi antara sinar gamaa dengan materi biologis sangat tinggi sehingga mampu memukul elektron pada kulit atom sehingga menghasilkan pasangan ion (pair production). Cairan sel baik intraselluler maupun ekstraselluler akan terionisasi sehingga menyebabkan kerusakan dan kematian pada mikro organisme tersebut.
Sterilisasi dengan penyinaran sinar gamma berdaya tinggi dipergunakan untuk objek-objek yang tertutup plastik (stick untuk swab, jarum suntik). Untuk makanan maupun obat-obatan tidak boleh menggunakan sinar gamma untuk sterilisasi oleh karena akan terjadi perubahan struktur kimia pada makanan maupun obat-obatan tersebut.

b. Metode pemanasan dengan uap air dan pengaruh tekanan (auto slave)
Benda yang akan disuci hamakan diletakkan di atas lempengan saringan dan tidak langsung mengenai air di bawahnya. Pemanasan dilakukan hingga air mendidih (diperkirakan pada suhu 100°C), pada tekanan 15 lb temperatur mencapai 121°C. Organisme yang tidak berspora dapat dimatikan dalam tempo 10 menit saja. Banyak jenis spora hanya dapat mati dengan pemanasan 100°C selama 30 menit tetapi ada beberapa jenis spora dapat bertahan pada temperatur ini selama beberapa jam. Spora-spora yang dapat bertahan selama 10 jam pada temperatur 100°C dapat dimatikan hanya dalam waktu 30 menit apabila air yang mendidih ini ditambah dengan natrium carbonat (Na2 CO3 ).

c. Metode pemanasan secara kering.
Pemanasan kering ini kurang efektif apabila temperatur kurang tinggi. Untuk mencapai efektivitas diperlukan pemanasan mencapai temperatur antara 160°C s/d 180°C. Pada temperatur ini akan menyebabkan kerusakan pada sel-sel hidup dan jaringan; hal ini disebabkan terjadinya auto oksidasi sehingga bakteri pathogen dapat terbakar. Pada sistem pemanasan kering terdapat udara; hal mana telah diketahui bahwa udara merupakan penghantar panas yang buruk sehingga sterilisasi melalui pemanasan kering memerlukan waktu cukup lama, rata-rata waktu yang diperlukan 45 menit. Pada temperatur 160°C memerlukan waktu 1 jam, sedangkan pada temperatur 180°C memerlukan waktu 30 menit. Pada metode pemanasan kering ini secara rutin dipergunakan untuk mensterilisasikan alat-alat pipet, tabung reaksi, stick swab, jarum operasi, jarum suntik, syringe. Oleh karena temperatur tinggi sangat mempengaruhi ketajaman jarum atau gunting maka hindarilah tindakan sterilisasi dengan metode panas kering terhadap jarum dan gunting.
d. Metode pemanasan secara intermittent/terputus-putus
John Tyndall (1877) memperoleh dari hasil penelitiannya bahwa pada temperatur didih (100°C) selama 1 jam tidak dapat membunuh semua mikroorganisme tetapi apabila air dididihkan berulang-ulang sampai lima kali dan setiap air mendidih istirahat berlangsung 1 menit akan sangat berhasil untuk membunuh kuman. Hal ini dapat dimengerti oleh karena dengan pemanasan intermittent lingkaran hidup pembentukan spora dapat diputuskan.
e. Metode incineration (pembakaran langsung).
Alat-alat platina, khrome yang akan disteril dapat dilakukan melalui pembakaran • secara langsung pada nyala lampu bunzen hingga mencapai inerah padam. Hanya saja dalam proses pembakaran langsung ini alat-alat tersebut lama kelamaan menjadi rusak. Keurtungannya: mikroorganisme akan hancur semuanya.
f. Metode penyaringan (filtration)
Metode penyaringan berbeda dengan metode pemanasan. Sterilisasi dengan metode pemanasan dapat membunuh mikroorganisme tetapi mikroorganisme yang mati tetap berada pada material tersebut, sedangkan sterilisasi dengan metode penyaringan mikroorganisme tetap hidur hanya dipisahkan dari material. Bahan filter/penyaringan adalah scjenis porselin yang berpori yang dibuat khusus dari masing-masing pabrik.
Ada banyak macam filter yaitu :
1) Berkefeld V.
2) Coarse N, M dan W.
3) Fine.
4) Chamberland.
5) Seitz.
6) Sintered glass.
Metode filtrasi ini hanya dipakai untuk sterilisasi larutan gula, cairan lain seperti serum atau sterilisasi hasil produksi mikroorganisme seperti enzym dan exotoxin dan untuk memisahkan fitrable virus dan bakteria dan organisme lain.

Referensi
Fisika Kedokteran

Senin, 28 Februari 2011

Air Lindih

A. Pengertian Air Lindi
Lindi dari sebuah kolam penampungan lindi dapat meresap ke dalam tanah. Peresapan cairan lindi ke dalam tanah akan menyebabkan pencemaran tanah dan air tanah secara langsung. Agar pencemaran oleh lindi ini berkurang bahkan hilang, maka diperlukan suatu upaya remediasi sebelum mencapai air tanah, salah satunya adalah dengan memasang lapisan yang mampu menyaring air lindi dan mengurangi kadar pencemar yang terkandung dalam air lindi. Beberapa material mampu menyaring air lindi, diantaranya adalah karbon aktif. Untuk mengetahui seberapa efektif pemasangan karbon aktif ini sebagai media pelapis remediator maka diperlukan suatu penelitian. . Oleh karena itu dari latar belakang masalah di atas dapat dirumuskan satu permasalahan yaitu apakah filter granular mampu mereduksi kadar pencemar dalam lindi, dimana tujuan dari penelitian ini adalah sebagai dasar dan masukan jenis filter granular yan baik digunakan untuk mengurangi kadar pencemar dalam air kolam penampungan lindi. Lindi dapat didefinisikan sebagai cairan yang timbul dari hasil dekomposisi biologis sampah yang telah membusuk yang mengalami pelarutan akibat masuknya air eksternal ke dalam urugan atau timbunan sampah. Air lindi disebabkan oleh terjadinya presipitasi cairan ke TPA, baik dari resapan air hujan maupun kandungan air pada sampah itu sendiri.
Lindi bersifat toksik karena adanya zat pengotor dalam timbunan yang mungkin berasal dari buangan limbah industri, debu, lumpur hasil pengolahan limbah, limbah rumah tangga yang berbahaya, atau dari dekomposisi yang normal terjadi pada sampah. Apabila tidak segera diatasi, landfill yang dipenuhi air lindi dapat mencemari lingkungan, terutama air tanah dan air permukaan. Hampir di semua TPA, air lindi terdiri dari cairan yang terdapat di TPA dari sumber eksternal, seperti permukaan drainase, airhujan, air tanah, dan air dari bawah tanah dan cairan yang diproduksi dari dekomposisi sampah. Sampah pada timbunannya akan mengalami proses dekomposisi yang ditandai dengan perubahan fisis, biologis, dan kimiawi. Dekomposisi yang terjadi pada landfill dipengaruhi oleh pemadatan, kelembapan, kehadiran materi penghambat, laju pengaliran air, temperatur, tersedianya O2, populasi mikrobiologis yang dipengaruhi keadaan tanah penutup dan tipe dari sintesa yang terjadi, sifat-sifat heterogenisasi sampah, sifat-sifat fisik, kimiawi dan biologis. Variasi didalam komposisi lindi dipengaruhi oleh beberapa faktor, , antara lain: komposisi dan umur sampah, lokasi dan pengoperasian serta kondisi landfill, iklim dan kondisi hidrogeologi, kelembaban, temperatur, pH dan tingkat stabilitas.

Jumat, 25 Februari 2011

hujan asam

HUJAN ASAM

Hujan asam

Hujan asam didefinisikan sebagai segala macam hujan dengan pH di bawah 5,6. Hujan secara alami bersifat asam (pH sedikit di bawah 6) karena karbondioksida (CO2) di udara yang larut dengan air hujan memiliki bentuk sebagai asam lemah. Jenis asam dalam hujan ini sangat bermanfaat karena membantu melarutkan mineral dalam tanah yang dibutuhkan oleh tumbuhan dan binatang.

Hujan asam disebabkan oleh belerang (sulfur) yang merupakan pengotor dalam bahan bakar fosil serta nitrogen di udara yang bereaksi dengan oksigen membentuk sulfur dioksida dan nitrogen oksida. Zat-zat ini berdifusi ke atmosfer dan bereaksi dengan air untuk membentuk asam sulfat dan asam nitrat yang mudah larut sehingga jatuh bersama air hujan. Air hujan yang asam tersebut akan meningkatkan kadar keasaman tanah dan air permukaan yang terbukti berbahaya bagi kehidupan ikan dan tanaman. Usaha untuk mengatasi hal ini saat ini sedang gencar dilaksanakan.Dalam kehidupan sehari-hari, tentunya kita mengenal hujan yang memang hampir kita jumpai setiap hari. Hujan secara umum bersifat asam (pH sedikit di bawah 6) karena karbondioksida (CO2) di udara yang larut dengan air hujan memiliki bentuk sebagai asam lemah (H2CO3). Jenis asam dalam hujan yang biasa terjadi ini sangat bermanfaat karena membantu melarutkan mineral dalam tanah yang dibutuhkan oleh tumbuhan dan binatang. Sedangkan, hujan asam yang kita kenal dapat diartikan sebagai segala macam hujan dengan pH di bawah 5,6. Istilah Hujan asam pertama kali diperkenalkan oleh Angus Smith ketika ia menulis tentang polusi industri di Inggris (Anonim, 2001). Tetapi istilah hujan asam tidaklah tepat, yang benar adalah deposisi asam. Deposisi asam ada dua jenis, yaitu deposisi kering dan deposisi basah. Deposisi kering ialah peristiwa kerkenanya benda dan mahluk hidup oleh asam yang ada dalam udara. Ini dapat terjadi pada daerah perkotaan karena pencemaran udara akibat kendaraan maupun asap pabrik. Selain itu deposisi kering juga dapat terjadi di daerah perbukitan yang terkena angin yang membawa udara yang mengandung asam. Biasanya deposisi jenis ini terjadi dekat dari sumber pencemaran. Deposisi basah ialah turunnya asam dalam bentuk hujan.

Secara alami hujan asam dapat terjadi akibat semburan dari gunung berapi dan dari proses biologis di tanah, rawa, dan laut. Akan tetapi, mayoritas hujan asam disebabkan oleh aktivitas manusia seperti industri, pembangkit tenaga listrik, kendaraan bermotor dan pabrik pengolahan pertanian (terutama amonia). Gas-gas yang dihasilkan oleh proses ini dapat terbawa angin hingga ratusan kilometer di atmosfer sebelum berubah menjadi asam dan terdeposit ke tanah.


Pada dasarnya, Hujan asam disebabkan oleh belerang (sulfur) yang merupakan pengotor dalam bahan bakar fosil serta nitrogen di udara yang bereaksi dengan oksigen membentuk sulfur dioksida dan nitrogen oksida. Sekitar 50% SO2 yang ada di atmosfer diseluruh dunia terjadi secara alami, misalnya dari letusan gunung berapi maupun kebakaran hutan secara alami. Sedangkan 50% lainnya berasal dari kegiatan manusia, misalnya akibat pembakaran Bahan Bakar Fosil (BBF), peleburan logam dan pembangkit listrik. Minyak bumi mengadung belerang antara 0,1% sampai 3% dan batubara 0,4% sampai 5%. Sedangkan zat nitrogen oxides 50% terdapat di atmosfer secara alami, dan 50% lagi juga terbentuk akibat kegiatan manusia, terutama akibat pembakaran BBF. Pembakaran BBF mengoksidasi 5-50% nitrogen dalam batubara , 40-50% nitrogen dalam minyak berat dan 100% nitrogen dalam mkinyak ringan dan gas. Makin tinggi suhu pembakaran, makin banyak Nitrogen oxides yang terbentuk. Senyawa SO2 dan NOx ini akan terkumpul di udara dan akan melakukan perjalanan ribuan kilometer di atsmosfer dan di saat mereka bercampur dengan uap air akan membentuk zat asam sulfat dan nitrat yang mudah larut. Saat air hujan turun, zat-zat tersebut ikut larut dan jatuh ke bumi.



Terjadinya hujan asam harus diwaspadai karena dampak yang ditimbulkan bersifat global dan dapat menggangu keseimbangan ekosistem. Hujan asam memiliki dampak tidak hanya pada lingkungan biotik, namun juga pada lingkungan abiotik, antara lain :




Danau

Kelebihan zat asam pada danau akan mengakibatkan sedikitnya species yang bertahan. Jenis Plankton dan invertebrate merupakan mahkluk yang paling pertama mati akibat pengaruh pengasaman. Apa yang terjadi jika didanau memiliki pH dibawah 5, lebih dari 75 % dari spesies ikan akan hilang (Anonim, 2002). Ini disebabkan oleh pengaruh rantai makanan, yang secara signifikan berdampak pada keberlangsungan suatu ekosistem. Tidak semua danau yang terkena hujan asam akan menjadi pengasaman, dimana telah ditemukan jenis batuan dan tanah yang dapat membantu menetralkan keasaman.



Tumbuhan dan Hewan

Hujan asam yang larut bersama nutrisi didalam tanah akan menyapu kandungan tersebut sebelum pohon-pohon dapat menggunakannya untuk tumbuh. Serta akan melepaskan zat kimia beracun seperti aluminium, yang akan bercampur didalam nutrisi. Sehingga apabila nutrisi ini dimakan oleh tumbuhan akan menghambat pertumbuhan dan mempercepat daun berguguran, selebihnya pohon-pohon akan terserang penyakit, kekeringan dan mati.


Sebenarnya, ada cara yang sangat ampuh untuk mengurangi hujan asam, yakni dengan pengurangan penggunaan minyak bumi (Bahan Bakar Fosil), namun, karena sampai sekarang manusia masih tergantung pada BBF tersebut, maka cara tersebut tidaklah efektif bagi masyarakat yang masih butuh BBF. Oleh sebab itu, Di Amerika Serikat, banyak pembangkit tenaga listrik tenaga batu bara menggunakan Flue gas desulfurization (FGD) untuk menghilangkan gas yang mengandung belerang dari cerobong mereka. Sebagai contoh FGD adalah wet scrubber yang umum digunakan di Amerika Serikat dan negara-negara lainnya.Wet scrubber pada dasarnya adalah tower yang dilengkapi dengan kipas yang mengambil gas asap dari cerobong ke tower tersebut. Kapur atau batu kapur dalam bentuk bubur juga diinjeksikan ke dalam tower sehingga bercampur dengan gas cerobong serta bereaksi dengan sulfur dioksida yang ada, Kalsium karbonat dalam batu kapur menghasilkan kalsium sulfat ber pH netral yang secara fisik dapat dikeluarkan dari scrubber. Oleh karena itu, scrubber mengubah polusi menjadi Kalsium Sulfat

makalah eco-campus

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Penghijauan adalah kegiatan yang sangat penting untuk dilakukan dalam menangani krisis lingkungan dan pemanasan global yang sedang terjadi saat ini. Penghijauan mempunyai berbagai peran dan fungsi. Peran dan fungsi dari penghijauan diantaranya adalah sebagai paru-paru kota yang sangat diperlukan makhluk hidup untuk pernapasan, sebagai pengatur lingkungan yang dapat memberikan kesejukan, kenyamanan serta kesegaran di lingkungan sekitar, sebagai pencipta lingkungan hidup yang dapat melestarikan keindahan yang ada di lingkungan hidup tersebut sebagai penyeimbangan alam yang dapat membentuk tempat hidup alam untuk satwa yang hidup di sekitar lingkungan tersebut sebagai perlindungan yang dapat memberikan kondisi fisik alami di sekitar lingkungan; sebagai keindahan yang dapat dijadikan panorama lingkungan hidup sebagai kesehatan yang dapat memberikan fisik, jasmani, maupun rohani yang sehat bagi makhluk hidup yang ada di sekitarnya; sebagai rekreasi yang dapat memberikan kesenangan bagi masyarakat sekitar sebagai pendidikan yang dapat memberikan pengetahuan lebih luas lagi mengenai penghijauan.
Di alam terjadi proses hubungan timbal balik, saling ketergantungan antar komponen. Apa yang dibuang akan menjadi bahan baku bagi yang lain, sehingga tidak ada komponen yang hilang dengan percuma. Selain itu, di alam tidak ada yang gratis, oleh sebab itu semua dinamika komponen pendukungnya berpengaruh pada lingkungan, termasuk hasil perbuatan manusia. Oleh sebab itu jika kita ingin memperoleh lingkungan yang berkualitas baik, maka kita juga harus memperlakukan lingkungan dengan baik. Salah satu cara adalah dengan dengan peduli terhadap keberadaan pohon. Kepada masyarakat perlu disosialisasikan manfaat keberadaan pohon bagi kelangsungan hidup manusia, antara lain menahan laju air sehingga akan lebih banyak air yang terserap ke dalam tanah, dengan struktur tajuk dan kerimbunan dedaunan, debu, dan abu dapat menempel pada daun, yang di saat hujan akan tercuci oleh air hujan, dengan tajuknya yang lebat, barisan pohon mampu mengurangi kecepatan angin.
Pentingnya kawasan hijau, selain menjadi tugas pemerintah, juga merupakan kewajiban bagi masyarakat. Hal ini mengingat bahwa hasil akhir yang akan diperoleh, secara langsung dirasakan oleh penduduk perkotaan sebagai daya dukung lingkungannya. Sehingga dapat dikatakan bahwa pentingnya penghijauan di wilayah perkotaan kini bukan lagi semata-mata sebagai kewajiban pemerintah, akan tetapi menjadi kewajiban semua pihak.

B. Tujuan Praktikum
1. Untuk menciptakan lingkungan yang asri, nyaman dan bersih
2. Meningkatkan pengetahuan terhadap pentingnya lingkungan yang asri agar terciptanya lingkungan yang sehat pula
3. Membangun kesadaran masyarakat yang mempunyai wawasan lingkungan yang luas merupakan " tiang pondasi " dalam menjaga kondisi lingkungan benar-benar jauh dari berbagai sumber pengrusakan dan pencemaran lingkungan

C. Manfaat Praktikum
1. Menyerap karbon akibat pembakaran baik asal rumah tangga, kendaraan bermotor atau lingkungan sekitar. Gas-gas karbon inilah yang ditengarai menjadi penyebab utama meningkatnya konsentrasi gas-gas di udara sehingga menyebabkan memantulnya kembali sinar matahari ke permukaan bumi dan berakibat meningkatnya suhu permukaan bumi (pemanasan global). Melalui proses fotosintesis, gas karbon (CO2) juga diproses oleh pohon untuk menghasilkan O2 (oksigen) yang sangat diperlukan manusia.
2. Menyaring kotoran (debu jalanan, abu pabrik/rumah tangga). Kerimbunan daun-daun di ranting-ranting pohon menjadi tempat menempelnya debu jalanan, abu pabrik maupun abu rumah tangga, yang selanjutnya pada saat hujan, kotoran atau abu tersebut akan tercuci oleh air hujan.
3. Mereduksi beberapa zat pencemar udara. Sebagian zat-zat pencemar di udara memiliki kandungan asam yang apabila terbawa hujan dan membentuk hujan asam yang dapat membahayakan kesehatan kulit dan menimbulkan korosi. Tajuk dan dedaunan pohon akan berfungsi untuk menahan hujan, dan pada beberapa jenis pohon akan mengeluarkan air gutasi untuk menetralkan kandungan asam yang di bawa air hujan.
4. Meningkatkan kenyamanan lingkungan. Pepohonan mampu membentuk mikroklimat yang sejuk, mengurangi kebisingan, mencegah silaunya sinar matahari, mengurangi bau busuk serta menyekat pemandangan yang kurang layak



BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Pengertian Penghijauan
Penghijauan adalah salah satu kegiatan penting yang harus dilaksanakan secara konseptual dalam menangani krisis Iingkungan. Begitu pentingnya sehingga penghijauan sudah merupakan program nasional yang dilaksanakan di seturuh Indonesia. Termasuk Kediri dan sekitarnya Penghijauan dalam arti luas adalah segala daya untuk memulihkan, memelihara dan meningkatkan kondisi lahan agar dapat berproduksi dan berfungsi secara optimal, baik sebagai pengatur tata air atau pelindung lingkungan. Ada pula yang mengatakan bahwa penghijauan kota adalah suatu usaha untuk menghijaukan kota dengan melaksanakan pengelolaan Taman-taman kota, taman-taman Iingkungan, jalur hijau dan sebagainya. Pengijauan dalam arti luas adalah segala daya upaya untuk memulihkan, memelihara, dan meningkatkan kondisi lahan agar dapat berproduksi dan berfungsi secara optimal, baik sebagai pengatur tata air ata pelindung ling-kungan.
Dalam hal ini penghijauan perkotaan merupakan kegiatan pengisian ruang terbuka di perkotaan. Pada proses fotosintesa tumbuhan hijau mengambil CO2 dan mengeluarkan C6H1206 serta peranan O2 yang sangat dibutuhkan makhluk hidup. Oleh karena itu, peranan tumbuhan hijau sangat diperlukan untuk menjaring CO2 dan melepas O2 kembali ke udara. Di samping itu berbagai proses metabolisme tumbuhan hijau dapat memberikan berbagai fungsi untuk kebutuhan makhluk hidup yang dapat meningkatkan kualitas lingkungan. Begitu peritingnya peranan tumbuhan di bumi ini dalarn menangani krisis lingkungan terutama di perkotaan, sangat tepat jika keberadaan tumbuhan mendapat perhatian serius dalam pelaksanaan penghijauan perkotaan sebagai unsur hutan kota.

B. Peran dan fungsi penghijauan
Penghijauan berperan dan berfungsi :
1. Sebagai paru-paru kota. Tanaman sebagai elemen hijau, pada pertumbuhannya menghasilkan zat asam (O2) yang sangat diperlukan bagi makhluk hidup untuk pernapasan
2. Sebagai pengatur lingkungan (mikro), vegetasi akan menimbulkan hawa lingkungan setempat menjadi sejuk, nyaman dan segar
3. Pencipta lingkungan hidup (ekologis)
4. Penyeimbangan alam (adaphis) merupakan pembentukan tempat-tempat hidup alam bagi satwa yang hidup di sekitarnya
5. Perlindungan (protektif), terbadap kondisi fisik alami sekitarnya (angin kencang, terik matahari, gas atau debu-debu)
6. Keindahan (estetika)
7. Kesehatan (hygiene)
8. Rekreasi dan pendidikan (edukatif)
9. Sosial politik ekonomi.
Ciptakan hutan kota Fungsi dan manfaat hutan antara lain untuk memberikan hasil, pencagaran flora dan fauna, pengendalian air tanah dan erosi, ameliorasi iklim. Jika hut:an tersebut berada di dalam kota fungsi dan manfaat hutan antara lain menciptakan ikIim mikro, engineering, arsitektural, estetika, modifikasi suhu, peresapan air hujan, perlindungan angin dan udara, pengendalian polusi udara, pengelolaan limbah dan memperkecil pantulan sinar matahari, pengendalian erosi tanah, mengurangi aliran permukaan, mengikat tanah. Konstruksi vegetasi dapat mengatur keseimbangan air dengan cara intersepsi, infiltrasi, evaporasi dan transpirasi. Dengan demikian penghijauan perkotaan sebagai unsur hutan kota perlu ditingkatkan secara konseptual meliputi perencanaan, pelaksanaan dan pemeliharaan dengan mempertimbangkan aspek estetika, pelestarian lingkungan dan fungsional. Pelaksanaan harus sesuai dengan perencanaan begitu pula pemeliharaan harus dilakukan secara terus-menerus.

C. Ecokampus
Kondisi alam saat ini semakin mengalami penurunan kualitas lingkungan. Daya dukung untuk keberlanjutan hidup umat manusia pun semakin berkurang. Pengrusakan lingkungan terjadi diseluruh pelosok muka bumi ini. Berbagai bencana sebagai dampak kerusakan lingkungan terjadi di mana-mana. Akibatnya keberlanjutan hidup manusia menjadi terancam. Upaya yang bisa kita lakukan hanyalah memperlambat percepatan kerusakan lingkungan tersebut, misalnya dengan keterkaitan kampus. Mengapa perlu kampus terlibat dalam upaya pelestarian lingkungan hidup? Kampus, sebuah kekuatan besar yang menghasilkan ilmuwan-ilmuwan masa depan, turut memberikan andil besar dalam pengrusakan lingkungan. Kampus kita, sebuah Institut Terbaik Bangsa, sekaligus juga merupakan Institut Terparah Bangsa karena tidak sedikit menghasilkan generasi-generasi perusak kehidupan bangsa.
.
Eco-Campus secara umum memiliki arti kampus yang berwawasan lingkungan. Secara terminologi “Eco” atau “Eko” berasal dari kata oikos (eko = rumah = lingkungan = alam). Definisi dari Eco-Campus adalah kampus sebagai rumah dimana seluruh komponen di dalam nya menjaga rumah tersebut agar menjadi nyaman dan lestari untuk memberikan manfaat untuk kehidupan orang banyak. dari kata Eco-Campus ini sangatlah mendalam, tidak hanya mengandung arti kampus yang berwawasan lingkungan, tetapi menjadi kampus yang “berperilaku ramah lingkungan”. Kampus yang berperilaku ramah lingkungan tidak hanya menjadi perilaku mahasiswa nya saja. Akan tetapi seluruh civitas akademika meliputi, dosen, karyawan, MWA, bahkan rektor sekalipun harus menjadi tauladan dalam berperilaku ramah lingkungan.


BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Di lingkungan kampus kami sudah melakukan penghijauan tersebut dengan menambahkan, menanam berbagai macam jenis tanaman. Tanaman tersebut di tanam dilingkungan kampus supaya udara dari lingkungan sekitar dapat memberikan udara yang baik ke setiap gedung perkuliahan. Tidak sekedar hanya menanam pohon, manfaat dari pohon tersebut juga diperhitungkan, misalnya pohon pinang yang bijinya dapat dimanfaatkan untuk mengobati beri-beri, cacingan, perut kembung, luka, diare, serta batuk berdahak. Sedangkan daunnya bisa untuk menambah nafsu makan dan mengobati sakit pinggang. Daun pohon pinang juga banyak dimanfaatkan untuk bungkus makanan. Sementara sabutnya bisa dipakai untuk menyembuhkan beri-beri, sembelit (susah buang air besar), dan gangguan pencernaan dan banyak manfaat pohon lainnya.


DAFTAR KEPUSTAKAAN

www.google.com
http://penakayu.blogdrive.com/archive/77.html
http://akuinginhijau.org/2009/11/07/penghijauan-kurangi-risiko-kebakaran/

.